Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Wednesday, July 10, 2013

Pipi-Pipi Gembul

terpaku aku pada sosok yang teramat lucu
matanya menyipit dipangku sofa empuk
hidungnya tenggelam terjepit donat
bibirnya manyun tak karuan

dibalik pipi-pipi gembul
tersirat tatapan ekspresi polos
dibalik bibir-bibir kecil
terucap beribu ketulusan

aku terpaku pada sosok yang teramat elok
rambutnya menyibak jatuh terurai
hidungnya mancung tak berbelok
tapi terpakuku segera tercerai

bersembunyi kata-kata manja
dibalik pipi-pipi tirus
mengarah tatapan mesra
dibalik bulu mata palsu

mata-mata belo, baik milik si tirus maupun si gembul
keduanya sama, tapi sinarnya berbeda
keduanya membuat jatuh cinta setiap menyembul
tapi sifat cinta yang timbul, tak pernah sama.


Wednesday, July 3, 2013

Cermin-Cermin

semalam tadi aku cukup dikejutkan oleh diriku sendiri.
 ada yang berbeda dalam anatomi tubuh ini.
dan itu membuat anatomi jiwaku ikut berubah.
perasaan yang sangat intim dengan diri sendiri.

coba pandangi dirimu di depan cermin.
sungguh hebat dan luar biasanya ciptaan Tuhan.
Tuhan sungguh pandai memahat badan.
juga tak kalah pandai memahat batin.

bercermin pada cermin datar
masa kini kulihat, apa yang aku lalui akhir-akhir ini.
bercermin pada cermin cembung,
terbayang apa yang terjadi di masa lalu.

cermin cembung memang memperluas ruang,
tapi elemen-elemen di dalamnya sungguh kecil.
apa yang kecil lama-kelamaan akan pudar,
terlupakan tapi tetap terkenang.

apa yang ada di depan kita berada di jauh tak terhingga
sinar-sinar masa depan akan datang,
dan dikumpulkan pada satu fokus utama oleh cermin cekung,
sehingga bayangan yang terbentuk hanyalah sebuah titik di titik fokus cermin.



Tuesday, July 2, 2013

Itik

setelah sekian lama terendap
setelah sekian lama terpendam
akhirnya meluap juga
akhirnya memekik jua


disini, ada sesosok itik yang buruk rupa
mungkin keahliannya berenang sama dengan itik-itik lain
bedanya, dia selalu mengasah kemampuannya berjalan
dan  dia selalu mencoba untuk terbang

meskipun dia tau hal itu mustahil
tapi ada kekuatan yang selalu mendorong dirinya
dan meyakinkannya
bahwa dia pasti bisa

siapa yang peduli pada si itik?
tidak ada yang peduli
tidak masalah, si itik sudah terbiasa
terbiasa menghadapi semuanya, sendiri

dia tidak pernah bermimpi menjadi cantik
dia hanya ingin selalu diberi kekuatan
kekuatan untuk terbang, untuk berdiri sendiri
dan itulah yang menjadikannya istimewa

Monday, July 1, 2013

Semu

Selamat pagi Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati.

Ada kalanya terbebas.
Ada kalanya terjerat.
Ada kalanya sangat mudah untuk beranjak.
Ada kalanya sangat sulit untuk beranjak.

Kadang, kesedihan itu ciptaan manusia sendiri.
Mereka hanya tidak tahu caranya bersyukur.
Mungkin sebenarnya bukan tidak tahu,
hanya kurang paham.

Kebahagiaan pun, sebenarnya ciptaan manusia sendiri.
Bagi mereka yang pandai bersyukur,
selalu tercipta kebahagiaan.
Meski terkadang, kebahagiaan itu semu.

Kebahagiaan yang dinikmati sendiri.
Tanpa peduli apa penyebabnya.
Tak peduli apakah penyebabnya juga merasa bahagia,
atau justru juga sama sekali tidak peduli.

Tidak perlu dikasihani.
Jangan pula ditertawakan.
Suatu saat, semu akan menjadi nyata.
Entah kapan saatnya.

Hanya di waktu yang tepat, yang sudah Tuhan tentukan.

Monday, June 24, 2013

Mengitari Bulan

Jika pagi ini pembicaraanku tak berarah,
Malam ini mataku tertuju pada satu arah.
Sebundar bulan bertengger dengan indah,
Meskipun suasana malam ini sedikit gerah.

Kata ibuku, bulan penuh, identik dengan udara dingin.
Tapi malam ini lain.
Apa yang dikatakan orang lain memang belum tentu benar
Tapi apa yang dilihat hati dan apa yang mata dengar.

Malam ini sang bulan sangat sombong
Cahayanya sangat terang
Sampai kakiku tak kuasa untuk tak melangkah ke teras depan
Aku hanya terdiam memandangi keindahannya.

Seakan awan-awan yang membingkainya
Melindunginya dari serangan para penghuni angkasa
Awan itu tidak mendekapnya,tidak juga memeluknya
Awan itu berdiri agak jauh, tapi dia sangat yakin dapat membentengi ratunya

Dasar,
Sang awan tak kalah sombong
Dia lupa bahwa putihnya tertelan hitam
Dan mataharinya digantikan bulan
Sesungguhnya angkuh dirinya telah ditaklukkan

Sang awan mengitari rembulan dari kejauhan
Dia cukup tau kapan waktu yang tepat untuk mendekat.
Untuk kemudian dapat melebur dengan sang bulan
Dan menciptakan keindahan yang hampir sempurna.


Sunday, June 23, 2013

Pembicaraan Tak Berarah

Sebelumnya, aku ingin meminta maaf, karena mungkin pembicaraan ini tanpa arah.
Tapi jangan buru-buru beranjak, karena ini bukan luapan amarah.

Hari ini aku berbincang dengan santai, dengan melupakan segala beban di hati dan pikiran.
Tertawa lepas, dengan melupakan bahwa sebenarnya sebuah senyuman pun masih tertahan.

Sekali lagi aku berbicara tanpa arah, dan hati ini sangat lega.
Mungkin di dalam tangisku yang dalam, meletup beberapa tawa.

Aku berjalan, dada ini sesak.
Sudah kubilang jangan berbalik, mengapa terus mendesak?

Disini, ada dua kutub magnet yang saling bertolakan.
Tapi apa yang seharusnya bertolak-tolakan, justru bertarik-tarikan.

Tuhan, Yang Maha membolak-balikkan hati.
Kali ini aku sungguh memohon dengan bakti.

Tuhan, Yang Maha mengetahui, maaf jika pembicaraan ini kurang khusyuk.
Maaf jika kali ini.. Oh bukan kali ini saja... Hambamu ini merasa tertusuk.

Bukan memohon hati yang mengampuni,  kumohonkan hati yang tenang.
Si hati tenang akan memenangkan segala kegelisahan dan hal-hal  yang terkenang.

Awalnya kubilang, ini tanpa arah. Mengapa akhirnya terarah?

Bodoh. Karena yang tak terarah sekalipun, akhirnya berarah.

Wednesday, June 19, 2013

Cerita si Jentik



Memicing tajam si bulu mata lentik
Mengintip dibalik kacamata antik
Tertuju pada kotak plastik
Tak berkutik

Tak perlu berbisik, apalagi memekik
Jemari tertancap pada seonggok mesin tik
Melantunkan tutur kata nan apik
Namun penuh intrik

Si jentik
Parasnya tak terlalu cantik
Tapi sosoknya begitu menarik
Pemikirannya menggelitik
Mimpi-mimpinya begitu menukik

Si jentik begitu asik
Merangkai untaian lirik
Lirik-lirik tanpa iringan musik
Senar gitar usang tak pernah dipetik

Si jentik terlalu baik
Melupakan si hati licik
Tersenyum pada si picik
Bukan, bukan munafik

Jentik,
Menarilah dibawah hujan rintik
Sampai matahari sekonyong-konyong melirik
Meretas indahnya titik
Tanpa harus berbalik
(Fira Nathania)






Tuesday, June 18, 2013

Sekelibat Kilat

Hujan..
Bukan datang secara tiba-tiba
Kilat datang mendahului
Petir menyambar-nyambar

Kilat..
Hanya datang sekejap
Mungkin mengejutkan, tapi hanya sesaat
Setelah pergi tidak akan diingat
Yang terlihat setelahnya hanyalah hujan

Tapi, Kilat itu sesekali datang mengiringi hujan
Supaya bukan hanya awan gelap yang menggelayut
Agar sedikit berwarna, keabuan itu

Hujan.. Kenalkah kau pada kilat?
Akrabkah engkau?
Sadarkah engaku akan keberadaannya?

Bahkan ketika engkau berhenti
Dan awanmu memutih
Engkau akan sama sekali melupakannya

Kilat bukan jahat, kilat hanya sekelibat
Kilat tak bermaksud mengancam
Sesungguhnya dia yang terancam

Kini kilat hanya lewat
Dan tak perlu diingat

Saturday, May 18, 2013

Dari Hati Turun ke Jari

"Setiap orang diberikan waktu yang sama, 24 jam sehari. Jika orang lain bisa menyelesaikan pekerjaannya dan kamu tidak, salah siapa?"

"Ingin rasanya terbang bebas seperti mereka, tapi rasanya sayap ini terlalu lemah, bahkan untuk sekali mengepak pun berat rasanya."

"Saat aku berjalan lurus, kemudian aku melihat sekitar, dan sekitarku membelokkanku. Saat aku berjalan berbelok-belok, kemudian aku melihat sekitar, dan sekitarku meluruskanku."

"Saat aku ingin menelanjangi jiwaku, tapi jiwaku terlalu malu untuk ditertawai. Jiwaku sungguh pintar dan sopan, bahkan terlalu pintar dan sopan untuk tidak memperlihatkan auratnya."

"Minus di mataku bagaikan langit yang paling indah, langit ketujuh. Buramnya menghalauku untuk melihat langit-langit lain. Tapi kacamata ini tetap harus terpasang, untuk menyadarkanku, bahwa semuanya ini, nyata."

"Apapun yang membuatku bertanya, sampai akhirnya aku meracau, dan racauanku tertuang dalam tulisan. Tulisan memang diam, tetapi dia akan menyuarakan apa yang tidak pernah terucap, menjawab pertanyaan yang tidak pernah terjawab."

"Dan setiap aku menulis, di saat setiap kata meluncur bukan dari mulut, tetapi dari hati yang turun ke jari. Saat itu juga hatiku selalu mengingatkan dan diingatkan, bahwa semua arah yang tak tertuju, semua tanya yang tak terjawab, manis yang akhirnya getir, akan tetap abadi dalam Satu."

"Dan Satu itu adalah Dia. Dia yang menjawab tanpa harus diberi pertanyaan. Dia yang selalu dekat meskipun engkau menjauh."